Sekarang sudah pukul 2 lewat 13 menit, aku masih belum mampu memejamkan mataku, ini sudah menjadi ciri khasku kurun waktu beberapa hari terakhir. Rasanya begitu sulit memejamkannya, meski aku hanya mempunya dua buah bola mata. Tak pernah ku bayangkan jika aku punya lebih dari ini.
Hari ini berakhir pilu, meski sebuah tanda tanya telah terungkap, dan aku terlepas dari ikatan rasa penasaranku. Namun itu semua tak cukup membebaskanku dari segala kesedihan ini, karena semuanya belumlah berakhir. Masih banyak duri tajam yang berserakan didasar hati ini, yang sesekali masih menusuk dan membuat hati ini perih.
Sebagian orang bijak mengatakan bahwa setiap hal pasti mengandung hikmah yang dapat kita petik dan kemudian dijadikan sebagai pedoman dimasa depan. Baik itu hal baik maupun tidak. Memang benar yang mereka katakan, semua pasti ada hikmahnya, namun itu semua tak semata-mata mampu meloloskan kita pada kejadian serupa dimasa depan. Contohnya aku, begitu sering aku merasakan sakit dihati, meski sudah sejuta hikmah dalam genggamanku, namun tetap saja, itu semua tak dapat kujadikan pelindung diri. Dimana letak kesalahannya ? Mereka yang salah kaprah, atau aku yang terlalu bodoh ? Entahlah, terlalu lemah fikiranku untuk menjelaskannya. Lebih baik sekarang aku jalani saja apa yang ada didepanku, tanpa membaca skenario, karna aku sudah bosan menghafal segala tulisan dan petunjuk yang ada, tetap ku tersesat.
Aku mencintai dia, tak sedikitpun ada keraguan dihati ini. Aku percaya dia, tak sedikitpun ada rasa curiga dihati ini. Aku menginginkan dia, tak sedikitpun aku rela kehilangannya. Namun apa dayaku, bila segala yang aku rasakan sama sekali tak ia rasakan dihatinya. Aku bagai sebutir pasir yang tersapu ombak, tak tahu akan arah tujuan, selalu terombang-ambing ditepi pantai.
Huft ...
Maafkan aku sayang, hari ini kembali ku buang air matamu, kusiakan ia dalam tirai penyesalah yang membekap padam. Aku tak ingin melakukannya, terlebih karna aku cinta kau, cinta segala hal dalam hidupmu. Tapi maafkan aku, bila kemunafikan ini membunuhmu dalam diam.
Sekarang aku sadar, bahwa keterbiasaan bukanlah modal untuk membayar semua kepercayaanmu padaku. Sehebat apapun aku melakukannya, tetap saja rasa itu ada dihatimu. Aku fahami itu sayang, namun aku tersentak.
Aku tahu, selama ini jalan yang ku tempuh tidaklah mulus, ku telusuri setapak yang berlumur kecurigaan. Dimana pada setiap sisinya selalu ada saja femikiran buruk yang mencercaku. Namun aku tetap berjalan, mencapai ujung jalan yang kau janjikan, dimana aku mampu meraih tanganmu.
Aku lelah malam ini, lelah menahan semua amarah, lelah menahan air mata yang menetes, lelah menahan gejolak kesedihan, lelah akan semuanya. Kini biarkan ku jalani segalanya dengan ikhlas, berharap harapan itu kembali datang, dan kau jadi milikku. Good night ...
Baca selengkapnya...
Cerita Handa
Rabu, 16 Februari 2011
Tanda Tanya Yang Memudar
Diposting oleh
Sahabat Sehati
di
11.36
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Selasa, 15 Februari 2011
Aku dan senandung gelisahku
Hari ini tidak jauh berbeda dengan hari-hariku sebelumnya, dimana kesepian menjadi raja dan ratu yang mengatur setiap derik suara tangis yang membisu dijantung hati. Tanpa sapu tangan ku usap air mata yang mulai kering, berharap ada sebutir harapan pada tetesan terakhirnya. Namun dalam tingkat kesadaranku yang menipis aku berfikir, lebih baik ku biarkan saja air mata ini berlinang, sampai suatu ketika aku mati tenggelam didalamnya. Sungguh pemikiran yang singkat dan tolol, namun begitulah aku yang sudah lelah, memikul luka hati yang kian berat, kian memilukan.
Tadi malam, lagi-lagi ku tumpahkan rasa kecewaku pada segelas kopi panas, berharap dengan itu aku tak tertidur dan bermimpi tentang semua keburukan ini. Aku nyalakan televisi, menyaksikan tayangan malam yang hampir serupa satu sama lain, sambil memutar otak, bagaimana caranya menghentikan dunia. Namun khayalan konyolku kembali terpecah setelah ku dengar bebunyian yang berasal dari tiang listrik didepan rumahku, yang sengaja dipukul 3x oleh seorang penjaga malam, menandakan saat itu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ya Allah.. sampai kapan ku tahan air mata ini.
Disaat memilukan seperti ini aku sadar, bahwa cinta memanglah pedih, terlebih disaat kita tak mampu mengendalikannya, cinta akan menabrakkan diri pada tembok pembatas, lalu mati dipelukan. Namun yang kurasakan kini jauh lebih pedih. Bahkan untuk menggambarkannya pada selembar kertaspun aku tak kuasa. Takdir ku sudah kelam, duniaku tlah murung, tiada waktu lagi untuk menyesal dan mengatakan tidak, aku sudah separuh jalan, tak mungkin lagi untuk kembali.
Aku masih ingat hari itu, dimana takdir mempertemukan aku dan dia, dalam sebuah pertemuan kecil, namun mempunyai makna besar digaris kehidupanku. Aku suka dia, dan senyumannya yang manja. Menarik hasratku untuk mengenalnya lebih jauh, masuk kedalam kehidupannya yang rindang. Ku yakin ada cinta dibawahnya, tempat dimana aku bisa berteduh dan merasakan sejukkan kasih sayang.
Dayung bersambut, perasaan yang mengekang telah ia bebaskan dari belenggu. Berulang-ulang terucap syukur dari bibirku, seakan tak percaya aku mampu berbicara lebih dengannya.
Senja berlalu, tunas cinta bermekaran, menghiasi pelataran hati yang damai. Namun segalanya tak berlangsung lama, disaat cinta tumbuh beserta wangi, kenyataan pahit menampar keras rongga jiwaku. Ia pergi tanpa pesan, tanpa sebuah perkara. Gadis yang ku beri cinta, gadis yang setiap harinya selalu kusirami butiran kasih sayang, kini berbalik menjauhiku. Ada apa ? Mengapa bisa begini ? Pertanyaan yang tak sempat ia tinggalkan jawabannya.
Dan sekarang, diselembar kekecewaan yang kupendam, ada trauma yang berarti menghantui, seperti takut mencoba lagi, namun sampai kapan harus begini.
Dalam kesendirian ini, kupastikan tiada dendam dihatiku, aku masih tetap mencintainya, menyiraminya dengan kasih sayang, walau tak berbekas… Baca selengkapnya...
Tadi malam, lagi-lagi ku tumpahkan rasa kecewaku pada segelas kopi panas, berharap dengan itu aku tak tertidur dan bermimpi tentang semua keburukan ini. Aku nyalakan televisi, menyaksikan tayangan malam yang hampir serupa satu sama lain, sambil memutar otak, bagaimana caranya menghentikan dunia. Namun khayalan konyolku kembali terpecah setelah ku dengar bebunyian yang berasal dari tiang listrik didepan rumahku, yang sengaja dipukul 3x oleh seorang penjaga malam, menandakan saat itu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ya Allah.. sampai kapan ku tahan air mata ini.
Disaat memilukan seperti ini aku sadar, bahwa cinta memanglah pedih, terlebih disaat kita tak mampu mengendalikannya, cinta akan menabrakkan diri pada tembok pembatas, lalu mati dipelukan. Namun yang kurasakan kini jauh lebih pedih. Bahkan untuk menggambarkannya pada selembar kertaspun aku tak kuasa. Takdir ku sudah kelam, duniaku tlah murung, tiada waktu lagi untuk menyesal dan mengatakan tidak, aku sudah separuh jalan, tak mungkin lagi untuk kembali.
Aku masih ingat hari itu, dimana takdir mempertemukan aku dan dia, dalam sebuah pertemuan kecil, namun mempunyai makna besar digaris kehidupanku. Aku suka dia, dan senyumannya yang manja. Menarik hasratku untuk mengenalnya lebih jauh, masuk kedalam kehidupannya yang rindang. Ku yakin ada cinta dibawahnya, tempat dimana aku bisa berteduh dan merasakan sejukkan kasih sayang.
Dayung bersambut, perasaan yang mengekang telah ia bebaskan dari belenggu. Berulang-ulang terucap syukur dari bibirku, seakan tak percaya aku mampu berbicara lebih dengannya.
Senja berlalu, tunas cinta bermekaran, menghiasi pelataran hati yang damai. Namun segalanya tak berlangsung lama, disaat cinta tumbuh beserta wangi, kenyataan pahit menampar keras rongga jiwaku. Ia pergi tanpa pesan, tanpa sebuah perkara. Gadis yang ku beri cinta, gadis yang setiap harinya selalu kusirami butiran kasih sayang, kini berbalik menjauhiku. Ada apa ? Mengapa bisa begini ? Pertanyaan yang tak sempat ia tinggalkan jawabannya.
Dan sekarang, diselembar kekecewaan yang kupendam, ada trauma yang berarti menghantui, seperti takut mencoba lagi, namun sampai kapan harus begini.
Dalam kesendirian ini, kupastikan tiada dendam dihatiku, aku masih tetap mencintainya, menyiraminya dengan kasih sayang, walau tak berbekas… Baca selengkapnya...
Diposting oleh
Sahabat Sehati
di
03.02
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Komentar (Atom)