Hari ini tidak jauh berbeda dengan hari-hariku sebelumnya, dimana kesepian menjadi raja dan ratu yang mengatur setiap derik suara tangis yang membisu dijantung hati. Tanpa sapu tangan ku usap air mata yang mulai kering, berharap ada sebutir harapan pada tetesan terakhirnya. Namun dalam tingkat kesadaranku yang menipis aku berfikir, lebih baik ku biarkan saja air mata ini berlinang, sampai suatu ketika aku mati tenggelam didalamnya. Sungguh pemikiran yang singkat dan tolol, namun begitulah aku yang sudah lelah, memikul luka hati yang kian berat, kian memilukan.
Tadi malam, lagi-lagi ku tumpahkan rasa kecewaku pada segelas kopi panas, berharap dengan itu aku tak tertidur dan bermimpi tentang semua keburukan ini. Aku nyalakan televisi, menyaksikan tayangan malam yang hampir serupa satu sama lain, sambil memutar otak, bagaimana caranya menghentikan dunia. Namun khayalan konyolku kembali terpecah setelah ku dengar bebunyian yang berasal dari tiang listrik didepan rumahku, yang sengaja dipukul 3x oleh seorang penjaga malam, menandakan saat itu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ya Allah.. sampai kapan ku tahan air mata ini.
Disaat memilukan seperti ini aku sadar, bahwa cinta memanglah pedih, terlebih disaat kita tak mampu mengendalikannya, cinta akan menabrakkan diri pada tembok pembatas, lalu mati dipelukan. Namun yang kurasakan kini jauh lebih pedih. Bahkan untuk menggambarkannya pada selembar kertaspun aku tak kuasa. Takdir ku sudah kelam, duniaku tlah murung, tiada waktu lagi untuk menyesal dan mengatakan tidak, aku sudah separuh jalan, tak mungkin lagi untuk kembali.
Aku masih ingat hari itu, dimana takdir mempertemukan aku dan dia, dalam sebuah pertemuan kecil, namun mempunyai makna besar digaris kehidupanku. Aku suka dia, dan senyumannya yang manja. Menarik hasratku untuk mengenalnya lebih jauh, masuk kedalam kehidupannya yang rindang. Ku yakin ada cinta dibawahnya, tempat dimana aku bisa berteduh dan merasakan sejukkan kasih sayang.
Dayung bersambut, perasaan yang mengekang telah ia bebaskan dari belenggu. Berulang-ulang terucap syukur dari bibirku, seakan tak percaya aku mampu berbicara lebih dengannya.
Senja berlalu, tunas cinta bermekaran, menghiasi pelataran hati yang damai. Namun segalanya tak berlangsung lama, disaat cinta tumbuh beserta wangi, kenyataan pahit menampar keras rongga jiwaku. Ia pergi tanpa pesan, tanpa sebuah perkara. Gadis yang ku beri cinta, gadis yang setiap harinya selalu kusirami butiran kasih sayang, kini berbalik menjauhiku. Ada apa ? Mengapa bisa begini ? Pertanyaan yang tak sempat ia tinggalkan jawabannya.
Dan sekarang, diselembar kekecewaan yang kupendam, ada trauma yang berarti menghantui, seperti takut mencoba lagi, namun sampai kapan harus begini.
Dalam kesendirian ini, kupastikan tiada dendam dihatiku, aku masih tetap mencintainya, menyiraminya dengan kasih sayang, walau tak berbekas…
Baca selengkapnya...
Selasa, 15 Februari 2011
Aku dan senandung gelisahku
Diposting oleh
Sahabat Sehati
di
03.02
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
------>> tanya hati,,
Posting Komentar